Fenomena Xiaomi Bangkitnya Produsen Tiongkok

Masuknya Xiaomi ke Indonesia Agustus nanti, sebenarnya bisa dianggap tidak istimewa. Itu kalau kita anggap brand ini tak ada bedanya dengan Oppo, Lenovo atau Huawei. Dengan kata lain Xiaomi hanya akan meramaikan bursa ponsel tanah air yang sudah padat seperti terminal atau stasiun di saat mudik lebaran. Meski harus diakui peta kekuatan industri smartphone Tiongkok terasa semakin kuat untuk keluar dari negeri sendiri.

Xiaomi yang modalnya dari Temasek, venture lokal dan Qualcomm adalah potret dari mencuatnya brand Tiongkok yang mulai paham bagaimana berbisnis perangkat secara total. Selama ini citra bisnis ponsel adalah pabrikan murni yang membuat dan memasok kepada pemilik brand. Sejak perjalanan awal, perusahaan yang berdiri sejak empat tahun silam di Beijing ini lahir bukan sekadar memproduksi smartphone. Ambisinya bukan jadi produsen dengan volume produksi besarbesaran.

Apalagi memproduksi ponsel murah. Ini hanya akan membuat bisnis tak berjangka panjang. “Kami bukan perusahaan murah yang memproduksi ponsel murah,” ujar Lei Jun, founder yang kini menjabat CEO Xiaomi itu. Bahkan ambisi Jun menjadikan Xiaomi terdaftar di list Fortune 500 Company, susunan 500 perusahaan kelas dunia papan atas versi majalah Fortune. Jun paham bahwa industri smartphone di masa depan bukan terletak pada bagaimana canggihnya setiap komponen penyokong.

Tapi, “Masa depan industri ini adalah pada mobile internet, dan ini semua membutuhkan layanan yang prima,” tandasnya. Boleh jadi Lin adalah didikan Tiongkok namun terlihat sekali pola pikir barat, khususnya industri teknologi Amerika memberi lebih banyak inspirasi. Berdiri tahun 2010, baru dua tahun kemudian Xiaomi merilis smartphone Android. Tapi dalam tempo singkat brand ini sudah menguasai daratan Tiongkok.

Pertengahan tahun lalu, ia masuk lima besar brand lokal negeri tirai bambu, Yulong, ZTE dan Huawei. Jika lima nama ini digabungkan jelas kana mengalahkan Samsung yang berada di posisi puncak. Artinya, konsumen Tiongkok sangat bangga menggunakan produk lokalnya. Malah, iPhone nyaris tak bunyi, berada satu peringkat di bawah Xiaomi.

Lalu apa yang membedakan Xiaomi dengan brand Tiongkok lain? Bisnis perangkat telekomunikasi ternyata bukan hanya sekadar memproduksi barang sesuai dengan standar kebutuhan dan teknologi. Yang kemudian dikirim ke wilayah jangkauan pasar. Kalau hanya melakukan sisi ini, Lenovo, Huawei, ZTE sudah terlalu hebat. Bahkan Yulong yang brand baru pun bisa, juga meraup posisi setara Lenovo. Oppo juga begitu, tapi strateginya lebih “menyerang” negara lain ketimbang tanahnya sendiri. Xiaomi perlu sosok, butuh nilai dari sebuah benda bernama ponsel.

Gabungan dari sosok dan nilai akan melahirkan kedekatan relasi antara perusahaan dengan konsumen melalui perangkat yang diproduksinya. Jadi, ponsel selain alat canggih untuk telekomunikasi dan mobile internet, juga menjadi jembatan relasi tadi. Hmm…seperti iPhone, Steve Jobs, dan Apple Fans Boy tampaknya? Benar! Jobs menjalankan Apple dengan seni dan intuisi. Cara seperti ini dilalui Lei Jun tapi dengan versinya. Walaupun dalam beberapa hal, simbol-simbol Jobs seperti berkaus turtle neck dan bercelana jins dikenakan pula oleh Jun.

Xiaomi tidak memproduksi banyak handset. Kalah dengan Xolo asal India yang lahir setahun setelah Xiaomi. Persis seperti Apple yang irit. Tahun 2012 rilis dua produk saja. Setahun kemudian ditambah, total keluar empat produk. Tapi, dua produk keluaran 2012 dan awal 2013 langsung menyita perhatian di negeri sendiri. Hadirnya seri MI-3 yang sarat dan ikut teknologi handset terkini dan harganya fantastis murahnya, melambungkan penjualan sampai 19 juta unit. Media lalu mencari siapa sosok di balik sukses ini.

Siapa lagi kalau bukan Lei Jun, yang lebih sohor ketimbang empat kawan pendiri lainnya. Jun adalah Xiaomi, begitu pula sebaliknya, setelah itu. Wataknya tak sekeras Jobs, tampilannya tak seperti selebritis, sederhana saja. Dan itu yang membuat ia naik daun. Melewati tahap ini, jajaran direksi pada Oktober 2013 memutuskan merekrut Hugo Barra, salah satu orang penting di Google, khususnya di divisi Android, yang justru lebih kondang ketimbang Jun. Pro dan kontra saling beradu seperti biasa. Tapi apa yang akan terjadi selanjutnya bisa tertebak.

Ambisi Xiaomi adalah membuat bisnis model perangkat seperti halnya Google Nexus atau Apple iPhone. Istilah kerennya end to end. Total dari segala sisi; hardware, software dan layanan. Barra jago soal itu. Apalagi kemudian, ia melihat Indonesia yang tak punya manufaktur, adalah pasar empuk setelah Tiongkok. Bekalnya adalah bisnis yang tak mengenal satu distributor, sehingga siapapun bisa jadi partner. Mereka punya 3.000 karyawan. Tahun silam berhasil kantungi pendapatan Rp 60,5 trilyun. Dan, perusahaan ini masih pula muda usia. Dengan modal serba ini, Xiaomi memang sudah siap menjelajah dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *