Lei Jun Si “Steve Jobs” Xiaomi

Nama Lei Jun tiba-tiba amat dikenal. Kiprahnya di dunia teknologi sudah lama. Ia termasuk pendiri Kingsoft, perusahaan Tiongkok yang selama ini dikenal sangat pro kepada Microsoft dan membuat berbagai aplikasi. Salah satu yang sukses adalah Kingsoft Office Mobile, aplikasi untuk smartphone yang lebih impresif ketimbang aplikasi pembaca maupun editing file Office seperti Words, Excel dan PowerPoint. Lompat dari Kingsoft, ia hijrah ke Xiaomi. Di sini dalam tempo tak kurang dari tiga tahun kekayaannya melambung tinggi.

Di usianya yang kini 44 tahun, pria asal Beijing ini masuk di urutan orang terkaya di dunia di urutan 375 atau nomor 19 di Tiongkok menurut majalah Forbes. Pendapatan bersihnya mencapai Rp 42,9 trilyun tahun silam. Pria dua anak ini lahir untuk dunia IT. Lulus Universitas Wuhan jurusan Ilmu Komputer. Afliasinya memang Amerika yang sudah lebih dulu maju. Lihat saja bagaimana ia amat mendukung Microsoft. Bahkan ia pernah mendirikan Amazon.com untuk kawasan Tiongkok.

Ia tak mahir berbahasa Inggris (bahkan sewaktu diskusi panel di Universitas Stanford, Amerika ia pakai bahasa Tiongkok), namun ia sangat terinspirasi oleh pola industri teknologi Amerika. Sebut saja Apple Computers, termasuk gaya Steve Jobs yang secara tidak sadar ia ikuti. Bisnis model Xiaomi yang mirip Apple dan gayanya yang bak Jobs, kerapkali membuat ia dan Xiaomi dijuluki Apple dan Jobs versi Tiongkok. Jelas Jun menampiknya. Namun, di balik itu Xiaomi justru jauh lebih cepat berkembang ketimbang Apple di masanya.

Mengapa Barra?

Ia satu-satunya orang yang bukan berkebangsaan Tiongkok di Xiaomi. Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana mungkin sebuah perusahaan seumur jagung berani “membeli” salah satu orang penting di Google Android? Dan, mengapa ia pun mau menerima tawaran ini, bukan kah hidup lebih menyenangkan di Google? Jawaban atas pertanyaan kedua sangat berkaitan dengan isu soal ketidak harmonisan antar pimpinan divisi Android, pasca masuknya Sundar Pichai menggantikan Andy Rubin.

Dan, Barra termasuk yang kurang sreg, hingga kabarnya memicu pergolakan batinnya. Galau. Jawaban pertanyaan pertama, karena butuh orang yang tahu persis isi dan bisnis Android, dan kebetulan tahun itu meraih untung besar-besaran. Juga di baliknya ada nama Temasek, Qualcomm, dan perusahaan Venture besar. Maka ketika suatu perjalanan mengantarkan Barra ke Beijing, ia bersua Bin Lim, teman Jun. Dari situ lalu pucuk dicita ulam tiba. Kata Barra, ada DNA yang sama antara dia dan Xiaomi. Tempo hari ia datangi Indonesia, jalin partner ship kemudian berlanjut ke negara Asia Tenggara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *