Perkembangan Bisnis Budidaya Udang Vaname di Lampung

Perkembangan Bisnis Budidaya Udang Vaname di Lampung – Iklim usaha budidaya udang vaname di Provinsi Lampung menghadapi berba- gai kendala. Setelah harga udang yang merosot sejak akhir tahun lalu tak kunjung pulih, kini juga dihadapkan pada kenaikan harga pakan dan obat-obatan seiring me – lonjaknya kurs dolar Amerika terhadap ru – piah. Belum lagi serangan penyakit silih-berganti. Ba – gaimana mengatasi hal ini?

Biosekuriti

Maksum mengatakan, pem budidaya kecil seperti dirinya paling terpukul aki bat kondisi bisnis udang yang memburuk. “De ngan padat tebar 40 ribu ekor/kolam ukuran 2.000 m2/unit, bisa panen 8 kuintal saja untuk 2 ko – lam, sudah dianggap sukses,” lanjut pembudidaya dari Desa Bumi Dipasena Jaya, Kec. Rawajitu, Kab. Tulang Bawang itu. Serangan penyakit yang sedang marak saat ini an – tara lain white spot syndrome virus (WSSV) dan invectious myonecrosis virus (IMNV ). Bahkan, WSSV sudah mulai me – nye rang udang di umur 17 hari dan diikuti kematian masal. Apa lagi, pada musim pancaroba banyak udang yang terserang WSSV karena daya tahan udang lemah. Pembudidaya berupaya menebar benur bermutu dengan membeli dari perusaha an. Namun, setelah ditebar masih saja ter serang penyakit. Maksum menilai, persoalan pe – nyakit di tempatnya bukan karena benur yang kurang baik tapi lebih ba nyak akibat lemahnya kesadaran pembudidaya menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara ketat, terutama biosekuriti.

“Setelah tidak menjalankan kemitraan, kawan-kawan budidaya semaunya. Ketika masih menjadi mitra PT Dipasena Citra Dar maja diawasi ketat sehingga SOP dija – lankan secara baik,” aku dia. Buktinya untuk mencegah WSSV dan IMNV, banyak pembudidaya yang menggunakan cara tra disional dengan mencampur jus meng – kudu ke pakan. Karena serangan penyakit, pembudidaya di are tambak eks Dipase – na panen di umur 70-75 hari. Para pembudidaya lalu membentuk ke – lompok usaha bersama (KUB) dan menggaji teknisi untuk mensupervisi budidaya udang. Teknisi juga menyiapkan SOP bu – didaya yang harus dijalankan anggota. Un tuk mengatasi harga pakan yang naik, KUB membentuk koperasi sebagai agen pakan dan obat-obatan buat anggota. “Dengan adanya KUB, anggota agak terbantu soal pengadaan pakan yang harganya lagi melambung. Kini biaya produksi naik sekitar 10%-20%,” bukanya.

Persoalan Pelik

Kuncoro, pembudidaya udang di Desa Bandarnegeri, Kec. Labuhan Maringgai, Kab. Lampung Timur juga mengungkapkan, budidaya si bongkok menghadapi persoalan pelik. “Di pantai timur perso – alannya tambah ruwet karena kesulitan air pada musim kemarau dan bersatunya saluran inlet dengan outlet,” timpalnya. Soal cuaca, ucapnya, mulai stabil memasuki musim kemarau setelah melewati pancaroba. Dibandingkan musim hujan dan pancaroba, budidaya udang di musim kemarau lebih aman dari serangan pe – nyakit. Persoalannya, pada musim kemarau pantai timur kesulitan air sehingga ha – rus menggunakan sumur bor yang salinitas airnya rendah. Pembudidaya terpaksa menggunakan asupan mineral lebih ba – nyak. “Ini jelas menaikan biaya produksi dan menambah beban pembudidaya di samping kenaikan harga pakan dan obatobatan,” keluhnya. Jika pemberian mineral kurang, akan berdampak terjadinya soft shell (kulit udang lembut) dan rawan terserang penyakit. Sementara dampak tidak terpisahnya saluran inlet dengan outlet adalah sterili – sasi air jadi lebih lama dan berbiaya besar untuk pengadaan bahan-bahan pembu – nuh bakteri dan inang penyakit.

Dengan sterlisasi yang sudah baik saja penyakit masih menyerang. Penyakit banyak mun – cul di pantai timur antara lain white feces disease (WFD) dan WSSV. Menurut Kuncoro, idealnya budidaya udang di Pantai Timur Lampung menggunakan tandon sehingga air tercukupi dan sterilisasi bisa sempurna. Hanya perso – alannya, keterbatasan lahan menjadi ken – dala. Lamanya sterilisasi dan penjernihaan air membuat budidaya hanya bisa dua si klus dalam setahun. Selain menggunakan obatobatan dan biosekuriti yang ketat, ia mene – rapkan padat tebar rendah, 60-70 ekor/m2. Kuncoro berkesimpulan, risiko budidaya udang di pantai timur jauh lebih tinggi da – ri pada kawasan lain. Apalagi, sentra budidaya di sini tidak tertata seperti di areal eks DCD di Kab. Tulang Bawang dan Brata – sena di Kab. Lampung Tengah yang saluran inlet dan outletnya dipisah.

Efisiensi

Hanung Hernadi, Mantan Ketua Forum Ko – munikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Lam – pung membenarkan, iklim usaha udang sedang memasuki masa-masa su lit. Akibat bergejolaknya kurs dolar, membuat harga pakan dan obat-obatan naik se kitar 10%- 15%. Kenaikan nilai tukar itu tidak berpe – ngaruh terhadap harga udang meski ekspor dalam kurs dolar. Terakhir, je las Hanung, harga udang size 60 di Bandarlampung hanya Rp60 ribu/kg. Pa dahal, pada 2017 harganya mencapai Rp80 ribu/kg. Menurut Hanung, banyak kolam yang su dah dipanen sebelum Hari Raya Idul Fitri, belum juga ditebar benur karena ma sih menunggu harga udang membaik. Jika harga tak kunjung pulih sedangkan harga pakan dan obat terus naik, kolam ko song bakal makin banyak. “Saya kha – watir kawan-kawan yang sudah panen sekarang akan membiarkan kolamnya ko song dulu menunggu iklim usaha mem baik,” lanjutnya.

Karena itu, ia melakukan efisiensi biaya produksi untuk mengatasinya. Caranya, menaikan padat tebar dari 150 ekor/m3 menjadi 200-250 ekor/m3 dan memanen udang ukuran kecil, size 80 di umur 70 hari sehingga biaya pakan, listrik, dan obat berkurang. Masa panen yang pendek ini bisa menekan nilai konversi pakan hingga 1,1 dan siklus budidaya bisa di – naikan 3 kali setahun. Selain menekan biaya produksi, cara ter – sebut juga mencegah penyakit IMNV dan WFD yang lebih banyak muncul pada umur menjelang 70 hari. Saat itu konsentrasi zat-zat organik di dasar kolam mulai meningkat sementara kebutuhan pakan dan obat-obatan melonjak. “Jadi intinya kita berpacu dengan penyakit,” jelas Ge – ne ral Manager PT Poseidon Biru Akuakultura ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *